Sinabung

Senin, 04 Oktober 2010

MOTIVASI DALAM BERWIRAUSAHA

KATA PENGANTAR


Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan ramat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Makalah tentang “Motivasi dalam Berwirausaha” ini dengan sebaik mungkin.

Pada kesempatan ini, penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Ir.Adil Barus,M.Si selaku dosen pembimbing mata kuliah Kewirausahaan serta teman-teman yang turut membantu dan memberikan masukan dalam penyelesaian makalah ini.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi setiap kalangan yang membaca dan sekaligus dapat membuka wawasan kita yang seluas-luasnya tentang motivasi dalam berwirausaha.

Akhir kata, tiada gading yang tak retak, demikian pula dengan penulisan makalah “Motivasi dalam Berwirausaha” ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun tetap dinantikan demi kesempurnaan penulisan laporan ini.




Medan, 11 Maret 2010,


Penulis
Simon Tampubolon





DAFTAR ISI


Kata Pengantar …………………………………………………….………….i

Daftar Isi ……………………………………………………………….ii

Bab I. Pendahuluan

A. Latar Belakang ………………………………………………………1

B. Maksud Pembuatan Makalah …………………………..……………….2

C. Tujuan Pembuatan Makalah………………………………….……….…2

Bab II. Pembahasan

A. Defenisi Motivasi ………………………….................................3
B. Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli ……………………………….4
C. Fungsi Motivasi …………………………………………………….…5
D. Jenis-Jenis Motivasi ……………………………………………….6
E. Teori Motivasi ……………………………………………………….7
F. Kisi Motivasi ………………………………………………………11
G. Nilai yang Terkandung dalam Motivasi ………………………………..
H. Sumber Motivasi dalam Berwirausaha ………………………………..
I. Memastikan Motivasi dalam Kewenangan Kepemimpinan ………….
J. Bagaimana Memotivasi Diri Sendiri, Orang Lain atau Karyawan …

Bab III. Penutup …………………………………………..………………….. 9

Daftar Pustaka ………………………………………………………….. iii-iv




BAB I.PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kata motivasi semakin sering digunakan akhir-akhir ini. Baik itu di buku-buku populer, seminar-seminar atau lainnya, terutama dalam hal yang menyangkut pengembangan diri. Apa sebenarnya motivasi itu, dari mana dan kenapa perlu motivasi terutama dalam pengembangan diri? Bila anda mempunyai keinginan, maka anda perlu motivasi untuk memanifestasi keinginan tersebut. Hanya dengan afirmasi atau niat, tanpa motivasi, belum cukup untuk mewujudkannya.
“Saya bermotivasi tinggi untuk memperbaiki diri sendiri” sebuah contoh kalimat yang digunakan untuk menaikkan motivasi pada diri kita sendiri, untuk sesuatu yang kita inginkan. Banyak dari kita yang mempunyai keinginan dan ambisi besar, tapi kurang mempunyai inisiatif dan kemauan untuk mengambil langkah untuk mencapainya. Ini menunjukkan kurangnya energi pendorong dari dalam diri kita sendiri atau kurang motivasi. Motivasi akan menguatkan ambisi, meningkatkan inisiatif dan akan membantu dalam mengarahkan energi kita untuk mencapai apa yang kita inginkan. Dengan motivasi yang benar kita akan semakin mendekati keinginan kita.
Biasanya motivasi akan besar, bila orang tersebut mempunyai visi jelas dari apa yang diinginkan. Ia mempunyai gambaran mental yang jelas dari kondisi yang diinginkan dan mempunyai keinginan besar untuk mencapainya. Motivasilah yang akan membuat dirinya melangkah maju dan mengambil langkah selanjutnya untuk merealisasikan apa yang diinginkannya.
Lakukan apapun dalam pengembangan diri anda dengan motivasi, baik itu karir, hubungan, spiritual, pekerjaan, menulis, memasak, membeli rumah, mendapatkan pacar, mengajar anak atau apapun. Motivasi ini akan ada, bila ada visi yang jelas dari apa yang anda akan lakukan, mengetahui apa yang akan anda lakukan dan percaya akan kekuatan yang ada pada anda sendiri. Ia akan merupakan kunci sukses dari apapun yang anda lakukan.
Untuk termotivasi, ketahui terlebih dahulu apa yang anda inginkan selanjutnya anda harus dapat meningkatkan energi keinginan itu dan siap untuk melakukan apa saja agar keinginan dapat tercapai. Motivasi berkaitan erat dengan tercapainya sesuatu keinginan. Sering kita gagal mencapai apa yang kita lakukan, misalnya berhenti minum kopi, merokok dan lainnya karena motivasinya kurang.
Apakah hubungannya motivasi dengan emosi? Sangat erat hubungannya. Keduanya diperlukan untuk proses tercapainya suatu keinginan. Disiplin adalah hal yang perlu agar keinginan tercapai. Untuk tetap disiplin, motivasi yang tinggi akan sangat membantu.
Dalam kehidupan kita, kita sering meniatkan untuk melakukan pengembangan atau merubah kondisi yang kita miliki, tapi sering tidak dilakukan dan berhenti hanya sebagai niat saja. Kenapa berhenti? Itu terjadi karena kurangnya motivasi, antusiasme, keinginan, determinasi, kemauan dan disiplin.
Jika motivasi kerja tinggi otomatis semangat hidupnya otomatis akan tinggi juga karena adanya suatu hubungan yang erat antara motivasi kerja dengan hidup sehingga setiap orang yang loyo, lemah, dan lainnya yang kurang pas untuk dilihat bisa jadi dia tida termotivasi untuk kerja dan semangat hidupnya tidak ada kecuali, sorry ya kalau memang dari sononya sudah keadaannya seperti itu.
Maka agar gairah hidup anda bertambah perlu adanya motivasi dalam bekerja bisa dari keluarga, teman dekat, rekan bisnis, dan semua orang yang ada disekitar kita motivasi tidak selalu harus diberikan melalui tatap muka langsung bisa jadi kita melalui obrolan atau tulisan orang lain seperti saya termotivasi untuk jadi hebat dalam mengelola blog dengan cara belajar dicafebisnis atau ada yang atau ada yang mau belajar bahasa inggris kan kita minta motivasi dari teman dengan belajar bahasa inggris melalui online di bahasa inggris praktis mudahkan.
Oleh karena itu kita harus senantiasa memotivasi dalam segala hal terutama dalam kerja maka saya yakin anda akan jadi orang hebat dan kelihatan oleh semua orang anda orang yang sangat bergairah dalam hidup bukan hanya gairah sesaat, sehingga omset bisa bertambah karena orang yakin dengan hasil kesemangatan hidup dan kerjapun jadi tidak sia-sia.

B. Maksud Pembuatan Makalah
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas perkuliahan semester IV pada mata kuliah “Kewirausahaan” yang dibimbing oleh Bapak Ir.Adil Barus,M.Si.

C. Tujuan Pembuatan Makalah
Dengan penulisan makalah ini diharapkan kepada mahasiswa agar lebih mengetahui dan memahami hal-hal penting dalam hal berwirausaha.
BAB II.PEMBAHASAN

A. Defenisi Motivasi
Perkataan “MOTIVASI” berasal daripada perkataan Bahasa Inggeris yaitu “MOTIVATION“. Kata motivasi berasal dari akar kata "motive" atau "motiwum" yang berarti 'a moving cause' yang berhubungan dengan 'inner drive, impulse, intension'. Kata "motive" atau "motif" ini bila berkembang menjadi motivasi, artinya menjadi 'sedang digerakkan atau telah digerakkan oleh sesuatu, dan apa yang menggerakkan itu terwujud dalam tindakan'. Di dalam surat khabar, kerap pemberita menulis ayat “motif pembunuhan”. Perkataan motif di sini boleh kita fahami sebagai sebab atau tujuan yang mendorong sesuatu pembunuhan itu dilakukan.
Motivasi adalah dorongan psikologis yang mengarahkan seseorang ke arah suatu tujuan. Motivasi membuat keadaan dalam diri individu muncul, terarah, dan mempertahankan perilaku, Motivasi adalah daya pendorong dari keinginan kita agar terwujud. Motivasi adalah sebuah energi pendorong yang berasal dari dalam kita sendiri.
Motivasi adalah daya pendorong dari keinginan kita agar terwujud. Energi pendorong dari dalam agar apapun yang kita inginkan dapat terwujud. Motivasi erat sekali hubungannya dengan keinginan dan ambisi, bila salah satunya tidak ada, motivasi pun tidak akan timbul.
B. Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli
Banyak para ahli yang memberikan pendapat tentang pengertian dari motivasi, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Menurut Kartini Kartono motivasi menjadi dorongan (driving force) terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu.
2. Menurut Wexley & Yukl motivasi adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif.
3. Sedangkan menurut Mitchell motivasi mewakili proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu.
4. Sedangkan menurut Gray (dalam Winardi, 2002) motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu.
5. Morgan (dalam Soemanto, 1987) mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku ( motivating states), tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut ( motivated behavior ), dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut ( goals or ends of such behavior ).
6. McDonald (dalam Soemanto, 1987) mendefinisikan motivasi sebagai perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi mencapai tujuan.
7. Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan keinginan setiap anggota organisasi berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini berbeda karena setiap anggota suatu organisasi adalah unik secara biologis maupun psikologis, dan berkembang atas dasar proses belajar yang berbeda pula (Suprihanto dkk, 2003).
8. Soemanto (1987) secara umum mendefinisikan motivasi sebagai suatu perubahan tenaga yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi pencapaian tujuan. Karena kelakuan manusia itu selalu bertujuan, kita dapat menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang memberi kekuatan bagi tingkahlaku mencapai tujuan,telah terjadi di dalam diri seseorang.
9. Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan / tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan / keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan. (Drs. Moh. Uzer Usman : 2000)
10. Motivasi adalah kekuatan tersembunyi di dalam diri kita yang mendorong kita untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas (Davies, Ivor K : 1986)
11. Motivasi adalah usaha – usaha untuk menyediakan kondisi – kondisi sehingga anak itu mau melakukan sesuatu (Prof. Drs. Nasution : 1995)
12. Chung dan Megginson yang dikutip oleh Faustino Cardoso Gomes, menerangkan bahwa pengertian motivasi adalah tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang yang mengejar suatu tujuan dan berkaitan dengan kepuasan kerja dan perfoman pekerjaan.
13. T. Hani Handoko mengemukakan bahwa motivasi adalah keadaan pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan.
14. A. Anwar Prabu Mangkunegara, memberikan pengertian motivasi dengan kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara prilaku yang berubungan dengan lingkungan kerja.
15. H. Hadari Nawawi mendefinisikan motivasi sebagai suatu keadaan yang mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan sesuatu perbuatan atau kegiatan yang berlangsung secara sadar.
16. Lain lagi dengan Henry Simamora, pengertian motivasi menurutnya adalah Sebuah fungsi dari pengharapan individu bahwa upaya tertentu akan menghasilkan tingkat kinerja yang pada gilirannya akan membuahkan imbalan atau hasil yang dikehendaki.
C. Fungsi Motivasi
Pentingnya peranan motivasi dalam berwirausaha perlu dipahami oleh pengusaha agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada karyawan atau anggotanya. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar karyawan, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi / memuaskan suatu kebutuhan. Dalam konteks berwirausaha maka kebutuhan tersebut berhubungan dengan kebutuhan untuk lancarnya usaha tersebut.
Peran motivasi dalam berwirausaha, motivasi berwirausaha dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin. Motivasi berwirausaha yang memadai akan mendorong untuk berperilaku aktif dalam berwirausaha, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap kefektifan usaha tersebut.

Fungsi motivasi dalam berwirausaha diantaranya :
1. Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan.
2. Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
3. Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
Selain tiga hal tersebut, dengan adanya motivasi bagi seorang pengusaha atau karyawan, maka motivasi tersebut akan dapat bekerja secara tidak langsung bagi keterampilan si pengusaha atau karyawan.Keterampilan yang dimaksudkan bagi seorang pengusaha atau karyawan adalah sebagai berikut:
1. Keterampilan berpikir Kreatif
Manusia entrepreneurship Pemikiran kreatif itu sendiri didukung oleh dua imajinasi dan proses berpikir ilmiah. Apabila kita tidak mencampurkan daya imajinasi dengan kemampuan berpikir ilmiah, maka tidak akan mungkin kita mengadakan pemikiran yang kreatif Jadi keterampilan berpikir kreatif membutuhkan dua hal, daya imajinasi yang mendukung proses berpikirdan cara berpikir ilmiah.

2. Keterampilan dalam Pembuatan Keputusan
Keputusan merupakan hasil pemilihan alternatif-alternatif. Biasanya keputusan yang diambil itu bertolak dari pendapat, fakta-fakta hanya dipakai untuk memperkuat atau mempertahankan pendapat itu. Setiap saat selama hidupnya seseorang harus mengadakan penilaian untuk kemudian dapat mengadakan pemilihan diantara alternatifalternatif. Oleh sebab itu manusia yang kreatif akan selalu berusaha melihat berbagai macam alternatif dalam pengukuran, sehingga mereka dapat mengadakan pemilihan alternatif yang paling tepat. Keputusan yang diambil oleh seseorang hendaknya tidak semata-mata didasarkan atas aklamasi, tetapi didasarkan pada berbagai pendapat yang bertentangan, dialog antara pandangan-pandangan yang berbeda serta pemilihan diantara hasil-hasil penilaian yang berbeda pula.
3. Keterampilan dalam Kepemimpinan
Membiasakan belajar keras untuk memiliki kepribadian yang kuat, maka seseorang akan memiliki keterampilan untuk memimpin diri sendiri. Seseorang akan mampu mengendalikan keinginan dan kemauannya ke arah tercapainya tujuan-tujuan hidup pribadinya. Keterampilan ini tidak dapat diperoleh tanpa usaha. Usaha melatih keterampilan untuk memimpin diri sendiri itu dengan jalan sebagai berikut:
a. Mengenal diri sendiri
Masalah pokok dalam mengenal diri sendiri adalah menyangkut hakikat manusia yang berambisi aktualisasi diri.
b. Melatih kemauan
Kemauan merupakan tenaga penggerak semangat untuk belajar dan bekerja dalam usaha mencapai tujuan-tujuan. Jadi kemauan memimpin diarahkan kepada usaha yang efektif.
c. Melatih disiplin diri sendiri
Disamping harus memiliki keterampilan untuk memimpin diri sendiri, manusia wirausaha juga diharapkan untuk dapat memimpin orang lain, karena seorang wirausaha tidak bisa terlepas pada kerja sama dengan orang lain.
d. Keterampilan Manajerial
Bagaimanapun juga, manusia wirausaha disamping sebagai pemimpin adalah juga sebagai manajer swasta. Oleh karena itu manusia wirausaha harus memiliki keterampilan manajerial. la harus mampu mengelola segenap sumber, baik sumber-sumber material maupun personal untuk mencapai sukses hidup. Beberapa keterampilan manajerial yang diperlukan bagi seorang wirausaha adalah:
1) Manusia wirausaha harus terampil dalam perencanaan
Tanpa perencanaan secara matang, maka tak mungkin usia dan kegiatan dapat berlangsung secara efektif, demikian pula kegiatan wirausaha.
2) Terampil dalam pengorganisasian
Dalam pengorganisasian seorang wirausaha dituntut untuk mampu memilih dan memperkerjakan orang-orang menurut bidang kemampuannya (the right man on the right place).
3) Manusia wirausaha harus dapat memberikan dorongan dan motivasi kerja kepada orang-orang lain yang diajak kerja sama.
4) Manusia wirausaha harus mampu mengkoordinir pelaksanaan tugas dan pekerjaan dari orang-orang atau bagian-bagian sehingga tidak terjadi kesimpangsiuran dalam pelaksanaan tugas tersebut.
5) Manusia wirausaha hendaknya dapat mengadakan bimbingan atau pengendalian, sehingga semua bagian dapat bekerjasama terarah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
6) Manusia wirausaha hendaknya mampu mengadakan penilaian terhadap pelaksanaan dan prestasi yang dicapai para pelaksana pekerjaan.

e. Keterampilan dalam bergaul antar manusia (Human relations)
Manusia wirausaha hendaknya membiasakan diri untuk bergaul dengan orang lain di dalam kehidupan sehari-hari. Agar memperoleh kesuksesan dalam pergaulan, maka seorang harus belajar mengenal ciri-ciri pribadi orang lain yang kita hubungi.

Motivasi juga berfungsi untuk mempengaruhi minat berwirausaha. Minat seseorang terhadap suatu obyek diawali dari perhatian seseorang terhadap obyek tersebut. Minat merupakan sesuatu hal yang sangat menentukan dalam setiap usaha, maka minat perlu ditumbuhkembangkan pada diri setiap pengusaha. Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan tumbuh dan berkembang sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Minat pada dasarnya adalah penerimaan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri pribadi sehingga kedudukan minat tidaklah stabil karena dalam kondisi-kondisi tertentu, minat dapat berubah-ubah, tergantung faktor-faktor yang mempengaruhinya. Minat bertalian erat dengan perhatian, maka faktor-faktor tersebut adalah pembawaan, suasana hati atau perasaan, keadaan lingkungan, perangsang dan kemauan. (Nurwakhid, 1995:12)
Yang mempengaruhi minat secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.
1. Faktor Intrinsik
Faktor intrinsik adalah faktor-faktor yang timbul karena pengaruh rangsangan dari dalam diri individu itu sendiri. Faktor-faktor intrinsic sebagai pendorong minat berwirausaha antara lain karena adanya kebutuhan akan pendapatan, harga diri, dan perasaan senang.

a. Pendapatan
Pendapatan adalah penghasilan yang diperoleh seseorang baik berupa uang maupun barang. Berwirausaha dalam bidang elektronika dapat memberikan pendapatan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Keinginan untuk memperoleh pendapatan itulah yang dapat menimbulkan minatnya untuk berwirausaha.
b. Harga Diri
Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang paling mulia, karena dikarunia akal, pikiran dan perasaan. Hal itu menyebabkan manusia merasa butuh dihargai dan dihormati orang lain. Berwirausaha digunakan untuk meningkatkan harga diri seseorang, karena dengan usaha tersebut seseorang akan memperoleh popularitas, menjaga gengsi, dan menghindari ketergantungannya terhadap orang lain. Keinginan untuk meningkatkan harga diri tersebut akan menimbulkan minat seseorang untuk berwirausaha.
c. Perasaan Senang
Perasaan adalah suatu keadaan hati atau peristiwa kejiwaan seseorang, baik perasaan senang atau tidak senang (Abu Ahmadi, 1992 : 101). Perasaan erat hubungannya dengan pribadi seseorang, maka tanggapan perasaan seseorang terhadap sesuatu hal yang sama tidak sama antara orang yang satu dengan yang lain. Rasa senang terhadap bidang elektronika akan diwujudkan dengan perhatian, kemauan, dan kepuasan berwirausaha dalam bidang elektronika. Hal ini berarti rasa senang terhadap bidang elektronika akan menimbulkan minat.

2. Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik adalah faktor-faktor yang mempengaruhi individu karena pengaruh rangsangan dari luar. Faktor-faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat berwirausaha antara lain: lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, peluang pendidikan/pengetahuan.
a. Lingkungan Keluarga
Lingkungan Keluarga adalah kelompok masyarakat terkecil yang terdiri dari ayah, ibu, anak, dan anggota keluarga yang lain. Keluarga merupakan peletak dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, disinilah yang memberikan pengaruh awal terhadap terbentuknya kepribadian.
Rasa tanggung jawab dan kreativitas dapat ditumbuhkan sedini mungkin sejak anak mulai berinteraksi dengan orang dewasa. Orangtua adalah pihak yang bertanggung jawab penuh dalam proses ini. Anak harus diajarkan untuk memotivasi diri untuk bekerja keras, diberi kesempatan untuk bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. Salah satu unsure kepribadian adalah minat. Minat berwirausaha akan terbentuk apabila keluarga memberikan pengaruh positif terhadap minat tersebut, karena sikap dan aktifitas sesama anggota keluarga saling mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung. Orang tua yangberwirausaha dalam bidang tertentu dapat menimbulkan minat anaknya untuk berwirausaha dalam yang sama pula. Misalnya: orang tua yang memiliki usaha service kemudian anaknya diperintahkan untuk membantu membongkar, mengecek, memeriksa, atau mengelola. Keterlibatan tersebut yang dapat menimbulkan minat berwirausaha dalam bidang elektronika.

b. Lingkungan Masyarakat
Lingkungan Masyarakat merupakan lingkungan di luar lingkungan keluarga baik di kawasan tempat tinggalnya maupun di kawasan lain. Masyarakat yang dapat mempengaruhi minat berwirausaha dalam bidang elektronika antara lain; tetangga, saudara, teman, kenalan, dan orang lain . Misalnya : seseorang yang tinggal di daerah yang terdapat usaha jasa elektronika atau sering bergaul dengan pengusaha elektronika yang berhasil akan menimbulkan minat berwirausaha bidang elektronika.

c. Peluang
Peluang merupakan kesempatan yang dimiliki seseorang untuk melakukan apa yang dinginkannya atau menjadi harapannya. Suatu daerah yang memberikan peluang usaha elektronika akan menimbulkan minat seseorang untuk memanfaatkan peluang tersebut. Sebenarnya banyak kesempatan yang dapat memberikan keuntungan di lingkungan kita. Kesempatan ini dapat diperoleh orang yang berkemampuan dan berkeinginan kuat untuk meraih sukses. Misalnya: seseorang yang melihat suatu daerah yang jarang adanya usaha di bidang elektronika atau bahkan tidak ada usaha jasa di bidang tersebut, kemudian dia memanfaatkan peluang tersebut dengan membuka usaha bengkel service di tempat tersebut.
d. Pendidikan
Pengetahuan yang di dapat selama kuliah merupakan modal dasar yang digunakan untuk berwirausaha, juga keterampilan yang di dapat selama di perkuliahan terutama dalam mata kuliah praktek.

D. Jenis-Jenis Motivasi
Jadi memotivasi orang lain, bukan sekadar mendorong atau bahkan memerintahkan seseorang melakukan sesuatu, melainkan sebuah seni yang melibatkan berbagai kemampuan dalam mengenali dan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain. Paling tidak kita harus tahu bahwa seseorang melakukan sesuatu karena didorong oleh motivasinya. Ada tiga jenis atau tingkatan motivasi seseorang, yaitu:
1. Fear Motivation, motivasi yang didasarkan atas ketakutan. Dia melakukan sesuatu karena takut jika tidak maka sesuatu yang buruk akan terjadi, misalnya orang patuh pada bos karena takut dipecat, orang membeli polis asuransi karena takut jika terjadi apa-apa dengannya, anak-istrinya akan menderita.
2. Achievement Motivation, Motivasi kedua adalah karena ingin mencapai sesuatu. Motivasi ini jauh lebih baik dari motivasi yang pertama, karena sudah ada tujuan di dalamnya. Seseorang mau melakukan sesuatu karena dia ingin mencapai suatu sasaran atau prestasi tertentu.
3. Inner Motivation, Sedangkan motivasi yang ketiga adalah motivasi yang didorong oleh kekuatan dari dalam , yaitu karena didasarkan oleh misi atau tujuan hidupnya. Seseorang yang telah menemukan misi hidupnya bekerja berdasarkan nilai yang diyakininya. Nilai-nilai itu bisa berupa rasa kasih pada sesama atau ingin memiliki makna dalam menjalani hidupnya. Orang yang memiliki motivasi seperti ini biasanya memiliki visi yang jauh ke depan. Baginya bekerja bukan sekadar untuk memperoleh sesuatu (uang, harga diri, kebanggaan, prestasi) tetapi adalah proses belajar dan proses yang harus dilaluinya untuk mencapai misi hidupnya.
Dalam buku The One Minute Manager, kedua penulis (Kenneth Blanchard dan Spencer Johnson) merangkum topik bahasan kita mengenai motivasi ini dalam sebuah ilustrasi yang amat menarik mengenai Manajer Satu Menit. Untuk menjadi manajer yang efektif dan dapat memotivasi anak buah untuk mencapai sasaran perusahaan, maka ada tiga hal yang harus dilakukan.
Pertama adalah membangkitkan inner motivation dari orang yang dipimpinnya dengan menetapkan berbagi misi atau sasaran yang akan dicapai. Kita sebagai pemimpin perlu berbagi dengan tim kita untuk secara bersama melihat visi secara jelas dan mengapa kita melakukannya. Motivasi yang benar akan tumbuh dengan sendirinya ketika seseorang telah dapat melihat visi yang jauh lebih besar dari sekadar pencapaian target. Sehingga setiap orang dalam organisasi kita dapat bekerja dengan lebih efektif karena didorong oleh motivasi dari dalam dirinya.

Hal kedua dan ketiga yang perlu dilakukan oleh seorang manajer efektif adalah memberikan pujian yang tulus dan teguran yang tepat. Kita dapat membuat orang lain melakukan sesuatu secara efektif dengan cara memberikan pujian, dorongan dan kata-kata atau gesture yang positif. Bahkan dalam bukunya yang melegenda, Dale Carnegie (How to Win Friends and Influence People) menempatkan ini sebagai prisip pertama dan kedua dalam menangani manusia, yaitu: (1) jangan mengkritik, mencerca atau mengeluh, dan (2) berikan penghargaan yang jujur dan tulus.
Manusia pada prinsipnya tidak senang dikritik, dicemooh atau dicerca, tetapi sangat haus akan pujian dan apresiasi. Tetapi kritik atau teguran yang tepat seringkali justru diperlukan untuk membangun tim kerja yang kokoh dan handal. Yang penting dalam menegur orang lain adalah bukan pada apa yang kita sampaikan tetapi cara menyampaikannya. Teguran yang tepat justru dapat menjadi motivasi dan menimbulkan reaksi yang positif.

Penelitian yang dilakukan dalam lima puluh tahun terakhir menunjukkan bahwa motivasi kerja tidak semata didasarkan pada nilai uang yang diperoleh (monetary value). Ketika kebutuhan dasar (to live) seseorang terpenuhi, maka dia akan membutuhkan hal-hal yang memuaskan jiwanya (to love) seperti kepuasan kerja, penghargaan, respek, suasana kerja , dan hal-hal yang memuaskan hasratnya untuk berkembang (to learn), yaitu kesempatan untuk belajar dan mengembangkan dirinya. Sehingga akhirnya orang bekerja atau melakukan sesuatu karena nilai, ingin memiliki hidup yang bermakna dan dapat mewariskan sesuatu kepada yang dicintainya (to leave a legacy).


E. Teori Motivasi
Banyak orang yang mencoba menjelaskan bagaimana semua motivasi bekerja. Berikut adalah beberapa diantaranya:
1. Teori Insentif.
Yaitu teori yang mengatakan bahwa seseorang akan bergerak atau mengambil tindakan karena ada insentif yang akan dia dapatkan. Misalnya, Anda mau bekerja dari pada sampai sore karena Anda tahu bahwa Anda akan mendapatkan intensif berupa gaji. Jika Anda tahu akan mendapatkan penghargaan, maka Anda pun akan bekerja lebih giat lagi. Yang dimaksud insentifbisa tangible atau intangible. Seringkali sebuah pengakuan dan penghargaan, menjadi sebuah motivasi yang besar.
2. Dorongan Bilogis.
Maaf, yang dimaksud bukan hanya masalah seksual saja. Termasuk didalamnya dorongan makan dan minum. Saat ada sebuah pemicu atau rangsangan, tubuh kita akan bereaksi. Sebagai contoh, saat kita sedang haus, kita akan lebih haus lagi saat melihat segelas sirup dingin kesukaan Anda. Perut kita akan menjadi lapar saat mencipum bau masakan favorit Anda.Bisa dikatakan ini adalah dorongan fitrah atau bawaan kita sejak lahir untuk mempertahankan hidup dan keberlangsungan hidup.
3. Teori Hirarki Kebutuhan
Teori ini dikenalkan oleh Maslow sehingga kita mengenal hirarki kebutuhan Maslow. Teori ini menyajikan alasan lebih lengkap dan bertingkat. Mulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan kemanan, kebutuhan akan pengakuan sosial, kebutuhan penghargaan, sampai kebutuhan akan aktualisasi diri. Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.
Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.
Lima (5) kebutuhan dasar Maslow - disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :
a. Kebutuhan Fisiologis (lahiriyah)
Manifestasi kebutuhan ini terlihat dalam tiga hal pokok, sandang, pangan dan papan. Bagi karyawan, kebutuhan akan gaji, uang lembur, perangsang, hadiah-hadiah dan fasilitas lainnya seperti rumah, kendaraan dll. Menjadi motif dasar dari seseorang mau bekerja, menjadi efektif dan dapat memberikan produktivitas yang tinggi bagi organisasi. Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
b. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan (Safety Needs)
Kebutuhan ini mengarah kepada rasa keamanan, ketentraman dan jaminan seseorang dalam kedudukannya, jabatan-nya, wewenangnya dan tanggung jawabnya sebagai karyawan. Dia dapat bekerja dengan antusias dan penuh produktivitas bila dirasakan adanya jaminan formal atas kedudukan dan wewenangnya.Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.
c. Kebutuhan Sosial (Social Needs).
Kebutuhan akan kasih sayang dan bersahabat (kerjasama) dalam kelompok kerja atau antar kelompok. Kebutuhan akan diikutsertakan, mening-katkan relasi dengan pihak-pihak yang diperlukan dan tumbuhnya rasa kebersamaan termasuk adanya sense of belonging dalam organisasi.Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
d. Kebutuhan Penghargaan (Esteem Needs)
Kebutuhan akan kedudukan dan promosi dibidang kepegawaian. Kebutuhan akan simbul-simbul dalam statusnya se¬seorang serta prestise yang ditampilkannya.Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
e. Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self actualization).
f. Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Dalam motivasi kerja pada tingkat ini diperlukan kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan antara cita diri dan cita organisasi untuk dapat melahirkan hasil produktivitas organisasi yang lebih tinggi.
Maslow tentang motivasi secara mutlak menunjukkan perwujudan diri sebagai pemenuhan (pemuasan) kebutuhan yang bercirikan pertumbuhan dan pengembangan individu. Perilaku yang ditimbulkannya dapat dimotivasikan oleh manajer dan diarahkan sebagai subjek-subjek yang berperan. Dorongan yang dirangsang ataupun tidak, harus tumbuh sebagai subjek yang memenuhi kebutuhannya masing-masing yang harus dicapainya dan sekaligus selaku subjek yang mencapai hasil untuk sasaran-sasaran organisasi.
4. Takut Kehilangan vs Kepuasan.
Teori ini mengatakan bahwa apda dasarnya ada dua faktor yang memotivasi manusia, yaitu takut kehilangan dan demi kempuasan (terpenuhinya kebutuhan). Takut kehilangan adalah adalah ketakutan akan kehilangan yang sudah dimiliki. Misalnya seseorang yang termotivasi berangkat kerja karena takut kehilangan gaji. Ada jugaorang yang giat bekerja demi menjawab sebuah tantangan, dan ini termasuk faktor kepuasan. Konon, faktor takut kehilangan lebih kuat dibanding meraih kepuasan, meskipun pada sebagian orang terjadi sebaliknya.
5. Kejelasan Tujuan
Teori ini mengatakan bahwa kita akan bergerak jika kita memiliki tujuan yang jelas dan pasti. Dari teori ini muncul bahwa seseorang akan memiliki motivasi yang tinggi jika dia memiliki tujuan yang jelas. Sehingga muncullah apa yang disebut dengan Goal Setting (penetapan tujuan)
Selain itu terdapat beberapa teori lain yang memiliki persamaan dengan teori-teori motivasi di atas,yaitu:
1. Teori Kepuasan (Content Theory)
a. FW. Taylor à Teori motivasi klasik
Teori motivasi klasik / teori motivasi kebutuhan tunggal. Teori ini berpendapat bahwa manusia mau bekerja giat utk dapat memenuhi kebutuhan fisik/ biologis nya, berbentuk uang / barang dari hasil pekerjaannya.
Konsep dasar teori ini : orang akan bekerja giat, bilamana ia mendapat imbalan materi yg mempunyai kaitan dg tugas-2nya. Manajer menentukan bagai-mana tugas dikerjakan dg menggunakan sistem insentif utk memotivasi para pekerja (FW. Taylor)
b. A. Maslow à Maslow need hirarchy theory
Dasar Teori Hierarki Kebutuhan :
1) Manusia merupakan mahluk sosial yg berke-inginan.
2) Suatu kebutuhan yg telah dipuaskan tdk menjadi alat motivator bagi pelakunyam & hanya kebu-tuhan yg belum terpenuhi yg akan menjadi motivator.
3) Kebutuhan manusia tersusun dalam suatu hierark: Physiological Needs,Safety and Security Needs,Affiliation ,Acceptance Needs or Belongingness,Esteem or Status Needs,Self Actualization.

c. Frederic Herzberg à Herzberg’s two factor theory
Ada 2 faktor :
1) Hygine factor / dissatisfiers à Faktor Pemeliharaan
Kondisi ekstrintik pekerjaan : Jika kondisi ini tdk ada menyebabkan ketidakpuasan (dibutuhkan minimal utk menjaga ketidakpuasan). Misalnya : Gaji, Jamsostek, Kondisi kerja, Status, Kebijakan perush, Kualitas supervise.
2) Satisfiers factor / Motivators à Pemuas
Jika kondisi tsb ada berfungsi sbg motivator yg dpt menghasilkan prestasi kerj yg baik. Tetapi jika tdk ada tdk akan menyebabkan ketidakpuasan. Misalnya: Prestasi, Pengakuan, Pekerjaan itu sendiri, tang-gungjawab, Kemajuan, pertumbuhan & perkembgn pribadi.
d. Dauglas Mc. Gregor à Teori X & Y
Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia secara jelas & tegasa dapat dibedakan atas manusia penganut teori X (teori tradisional) & teori Y (teori demokratik)
Teori x :
1) Rata-2 karyawan itu malas & tidak suka bekerja.
2) Umumnya karyawan tdk berambisi memncapai prestasi yg optimal & selalu menghindarkan tgj nya dg cara mengkambinghitamkan orang lain.
3) Karyawan lebih suka dibimbing, diperintah & di awasi dalam melaksanakan pekerjaanya.
4) Karyawan lebih mementingkan diri sendiri & tdk memperdulikan tujuan organisasi.

Teori y :
1) Rata-2 karyawan rajin & menganggap sesungguh nya bekerja, sama wajarnya dg bermain & istirahat.
2) Lazimnya karyawan dapat memikul tanggungjawab & berambisi untuk maju dg mencapai prestasi kerja yg optiomal.
3) Karyawan selalu berusaha mencapai sasaran organisasi & mengembangkan dirinya untuk mencapai sasaran itu.
e. Mc. Clelland à Mc Glelland learned needs thery
Teori ini berpendapat bahwa karyawan mempunyai cadangan energi potensial. Energi ini bisa digunakan sangat tergantung pada kekuatan dorongan motivasi & situasi yg dihadapi karyawan.
Kekuatan yg mendorong adalah :
1) Kebutuhan dasar
2) Harapan keberhasilan
3) Nilai insentif yg melekat pada tujuan
Hal-hal yg memotivasi seseorang :
1) Kebutuhan akan prestasi (Need for Achievement = n Ach)
2) Kebutuhan akan afiliasi (Need for Affiliation = n Af)
3) Kebutuhan akan kekuatan (Need for Power = n Pow)
f. Teori motivasi Claude S. George
2. Teori Motivasi Proses (Process Theory)
3. Teori Pengukuhan (Reinforcement Theory)



F. Kisi Motivasi
Pada dasarnya, motivasi dilakukan dengan mengadakan sentuhan-sentuhan manusiawi yang menyentuh personalitas setiap individu. Motivasi dapat dilakukan dengan cara berikut.

1. Motivasi melalui sentuhan tubuh
Manusia adalah makhluk yang "complex unity", yang meliputi roh, jiwa, dan tubuh.Tubuh sebagai bagian yang riil dari manusia, berhubungan dengan roh serta jiwanya secara integral. Roh serta jiwa manusia dapat dipuaskan dengan jalan sentuhan tubuh. Sentuhan tubuh dapat dilakukan dengan tersenyum, berjabat tangan, menepuk bahu, dsb., yang dilakukan dengan penuh kesopanan serta penghargaan kepada pegawai yang harus dilihat sebagai subyek. Kebutuhan fisik berhubungan erat dengan kebutuhan roh serta jiwa. Hubungan erat ini menyebabkan adanya hubungan pemenuhan kebutuhan yang utuh. Apabila tubuh diberi sentuhan sebagai tanda hormat, pujian, dan dukungan, maka akan ada respons kepuasan roh serta jiwa. Sentuhan-sentuhan ini dengan sendirinya akan memberi dorongan kuat (motivasi) untuk "menjadi lebih baik", sehingga tergerak untuk lebih aktif dan maju.

2. Motivasi melalui sentuhan rohani
Motivasi melalui sentuhan rohani ialah motivasi yang menyentuh kisi moral. Motivasi ini berkaitan dengan pengembangan "integritas serta komitmen". Di sini para pegawai ditolong untuk memberikan tempat kepada faktor rohani, agar mereka memiliki prioritas tinggi dalam motivasi. Kepuasan rohani akan membawa kestabilan moral terhadap integritas terhadap diri, integritas rohani, integritas sosial, integritas ekonomi, dan integritas kerja yang tetap serta ditandai oleh komitmen yang pasti. Sentuhan rohani dapat dilakukan dengan memberikan nasihat/ ajaran moral/hikmat, dsb., yang memberi dorongan untuk mempertebal rasa/keinginan moral untuk menjadi lebih baik, lebih setia, lebih jujur, lebih aktif/giat, lebih bertanggung jawab, dsb., dalam melakukan tugas.

3. Motivasi melalui sentuhan psikologi
Pemimpin dapat membuat gerakan motivasi dengan sentuhan psikologis kepada orang-orang yang dipimpinnya. Sentuhan psikologis dapat berupa pujian (praising} atau teguran (reprimend), sesuai dengan kondisi langsung yang ditemukan pemimpin pada setiap pegawainya. Motivasi psikologis yang diberikan dengan tulus akan memberi dorongan yang kuat bagi para karyawan untuk bergerak maju, memperbaiki diri dan bekerja dengan lebih baik (bekerja semakin efektif, efisien, dalam hubungan manusia/organisasi yang sehat).

4. Motivasi sukses
Motivasi sukses berhubungan dengan prestasi sosial atau imbalan ekonomi, dsb. Motivasi sukses dapat diwujudkan dalam bentuk kenaikan pangkat/promosi sebagai tanda prestasi, dan imbalan lebih yang dapat menjawab kebutuhan ekonomi serta penghargaan sosial lain. Apabila dilakukan dengan bijak, motivasi sukses ini akan memberi dorongan yang kuat untuk bekerja dengan lebih giat/bersemangat, yang akan membawa hasil lebih dalam bekerja.

5. Motivasi diri
Motivasi diri atau "self motivation" adalah upaya membangunkan semangat diri dengan sugestidiri secara positif. Sugesti diri secara positif dapat dikembangkan dengan cara terus-menerus mengembangkan sikap positif, pilihan-pilihan positif, dan keputusan positif yang membangun diri dan orang lain. Motivasi diri bertujuan menjaga kestabilan sikap serta tekad untuk terus maju dan berprestasi. Motivasi diri seperti ini akan meredam gejolak-gejolak negatif dalam diri serta memberi kekuatan ganda menghadapi krisis hidup. Motivasi diri memberi tanda kematangan dan membangun tekad untuk bertahan serta maju/sukses.

G. Nilai yang Terkandung dalam Motivasi
Nilai-nilai yang terkandung dalam motivasi adalah senagai berikut:
1. Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya suatu kegiatan.
2. Kegiatan yang bermotivasi pada hakikatnya adalah kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat dari si pelaku.
3. Kegiatan yang bermotivasi menuntut kreatifitas dan imajinitas untuk berupaya secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan serasi guna membangkitkan dan memeliharan motivasi.
4. Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan dan mendayagunakn motivasi dalam kegiatan berkaitan dengan upaya pembinaan disiplin.Penggunaan asas motivasi merupakan sesuatu yang esensial dalam kegiatan.
H. Sumber Motivasi dalam Berwirausaha

Seorang pemimpin dapat melibatkan orang-orang yang dipimpinnya dengan menciptakan kondisi yang mendorong motivasi para karyawan.

1. Motivasi dapat dikembangkan dengan menemukan kebutuhan (bawahan) yang bersifat fisik, keamanan, mental, psikologi, sosial, dan ekonomi dalam lingkungan kerja dan menciptakan kondisi bagi pemenuhan kebutuhan tersebut. Faktor kebutuhan dapat menjadi motivasi yang mampu mendorong para bawahan untuk bekerja.
2. Motivasi dapat dikembangkan dengan menciptakan suatu keinginan untuk bekerja keras/giat, berprestasi dan sukses. Keinginan untuk bekerja keras, berprestasi, dan sukses dapat didorong dengan memberikan tantangan sugestif yang memberi motivasi untuk bertindak.

Seorang pemimpin yang bijak dapat mengembangkan motivasi para karyawannya dengan dasar-dasar berikut ini:
1. Perlu ada sasaran (target) pencapaian kerja yang jelas bagi setiap individu dalam setiap unit kerja.
2. Doronglah setiap orang untuk mencintai tugas dan dorong pula mereka untuk mengembangkan keinginan kuat untuk mencapai sasaran (target) kerja (sukses).
3. Jelaskanlah secara rinci dan terang manfaat pencapaian sasaran (target) kerja untuk pribadi, kelompok dan organisasi, serta imbalan yang akan diperoleh setiap individu yang bekerja dengan baik.
4. Doronglah/kembangkanlah sikap kebanggaan akan pekerjaan dan setiap hasil (kesuksesan) yang dicapai dalam pelaksanaan kerja. Ajarlah setiap bawahan untuk belajar bersyukur atas hasil kerja yang mereka capai.
5. Ciptakanlah kondisi, peluang, dan keinginan untuk menyenangi serta menikmati lingkungan kerja bagi setiap individu.
6. Ciptakan dan gerakkanlah keinginan kuat dari setiap individu untuk berorientasi kepada prestasi serta keberhasilan kerja.

Motivasi dalam kepemimpinan dimaksudkan untuk memberikan dorongan bagi setiap karyawan guna terlibat dalam kerja secara maksimal. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun, mendorong, serta mendukung semangat dan moral dengan gaya positif (untuk menghindari manipulasi). Pemimpin perlu memberikan dorongan agar orang-orang yang dipimpinnya belajar menghargai pekerjaan dan bersyukur untuk setiap hasil kerja yang dicapainya. Mereka harus disadarkan, bahwa berprestasi dalam pekerjaan justru menaikkan harga diri mereka. Mereka juga perlu diberi dorongan untuk bekerja aktif yang dilakukan dengan sukacita, sehingga membawa manfaat positif serta nilai lebih bagi diri, pemimpin, organisasi, serta lingkungan kerja.

I. Memastikan Motivasi dalam Kewenangan Kepemimpinan
Setiap pemimpin dengan kewenangan kepemimpinan yang ada padanya dapat memastikan bahwa ia dapat memberi motivasi bagi para karyawannya, yaitu dengan memberikan sentuhan serta dorongan yang pasti terhadap setiap karyawannya. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan berikut ini.

1. Buatlah sasaran (target) kerja yang dapat dicapai oleh setiap individu/kelompok dengan menolong/mengarahkan mereka untuk mewujudkan usaha kerja yang memadai dan lebih baik daripada yang telah dilakukan.
2. Organisasikanlah pekerjaan dan tempatkanlah setiap individu pada tugas yang tepat (dan bimbinglah mereka dalam doa). Berikan keyakinan, bahwa upaya kerja dari setiap individu akan berhasil dengan baik.
3. Tambahkanlah beban kerja pada setiap individu yang disesuaikan dengan tambahan kemampuan kerja yang dibutuhkan dalam proses kerja di setiap tugas.
4. Pastikanlah bahwa setiap orang bekerja dalam batas maksimumkekuatan yang ada padanya, bukan melebihi batas kekuatan yang wajar.
5. Libatkanlah semua orang dalam pekerjaan secara emosi, mental, rohani, dan fisik dengan memberikan dorongan dalam bidang berikut.
a. Tetapkan tujuan bersama yang disepakati, dipahami, dan diketahui dengan jelas oleh setiap individu.
b. Libatkanlah setiap orang dalam upaya pencapaian tujuan dengan mencari metodologi pelaksanaan kerja yang relevan untuk dipakai.
c. Delegasikan tugas kepada setiap individu dengan penuh dan jelas.
d. Libatkanlah setiap anggota dalam membuat keputusan, sehingga mereka merasa memiliki keputusan tersebut.
e. Bagilah kemenangan atau kekalahan yang dialami kepada setiap/semua anggota kelompok untuk dinikmati/ditanggung bersama.
f. Kembangkanlah sistem motivasi jangka pendek untuk diterapkan setiap saat.
g. Tunjukkanlah kepada setiap pegawai, bahwa Anda memahami dan memperhatikan kebutuhan mereka.
h. Kembangkanlah motivasi jangka panjang, dengan menunjukan bahwa akan ada kemenangan akhir yang akan dinikmati bersama.

Pemimpin yang tegas dan tekun akan memberi motivasi kepada para karyawannya, agar dapat mengambil langkah pemastian keberhasilan motivasi, seperti di bawah ini.
1. Pilihlah dan tetapkanlah untuk menang secara bersama yang dilakukan dengan sikap mental positif yang membangun.
2. Masuklah dengan pasti dalam perang melalui doa dengan keyakinan, bahwa akan ada kemenangan yang akan dicapai bersama.
3. Bersiaplah untuk membayar harga kemenangan dengan bekerja baik (efektif, efisien dalam hubungan organisasi yang sehat) dan bekerja keras secara konsisten.
4. Usahakanlah untuk terus menginterpretasi hidup dan proses kerja dari kaca mata kemenangan, karena kegagalan pun dapat diterima sebagai kemenangan yang tertunda.

Dengan mengingat kepentingan motivasi seperti telah disinggung di atas, setiap pemimpin yang ingin maju dan berhasil harus belajar serta bersungguh-sungguh menerapkannya dalam kepemimpinan, yang pada akhirnya akan menjamin keberhasilan dirinya sebagai pemimpin.


J. Bagaimana Memotivasi Diri Sendiri, Orang Lain atau Karyawan
Mampu memotivasi diri yang baik menuju sukses dalam bisnis, kewirausahaan dan kerja merupakan impian banyak orang. Namun semua usaha apapun ketika berangkat dari ketidak tahuan, maka nilai efektifitas menuju terwujudnya sebuah kesuksesan sangat kecil. Peluang sukses akan rendah.
Hal ini berbeda jika setidaknya kita mampu mengenal potensi diri kita sejak awal, sehingga banyak terjadi dan kita dengar, seseorang dengan usaha yang minimalis dan sederhana namun begitu cepat menjadi sukses dalam bisnisnya, kerjanya wirausahanya.
Mengenali diri merupakan modal dan kekuatan, terutama kekuatan untuk membangun kekuatan berikutnya menuju sukses menangkap peluang bisnis, peluang kerja, peluang sukses, peluang peningkatan reputasi.
Secara umum dan singkat tipe kepribadian manusia menurut Psikolog dari Amerika yang terkenal dengan JL Holland dapat dibedakan dengan 6 macam:
Tipe Kepribadian Konvensional. Ciri ciri dari kepribadian konvensional adalah :
Bersikat hati-hati, mengikuti arus , metodis, efisien, cermat, tidak fleksibel , pemalu, tidak mau menonjolkan diri, patuh, teratur , tekun, praktis, cermat, sopan, tidak imajinatif.Pekerjaan yang cocok untuk tipe konvensional adalah : resepsionis, sekretaris, klerek, operator komputer dan akuntan.
Tipe Kepribadian Sosial. Ciri-ciri kepribadian konvensional adalah: menyukai orang, menikmati pergaulan, ramah, dermawan, suka menolong, baik hati, mudah berempati, persuasif, sabar, suka bekerja sama, bertanggungjawab bijaksana, hangat
Pekerjaan yang cocok untuk tipe ini adalah: Guru, ibu rumah tangga, konsultan manajemen.
Tipe Kepribadian Investigative. Ciri-ciri Kepribadian investigative adalah rasional, analitis, kompleks, selalu ingin tahu, teliti, senang menyendiri, instrospektif, pemalu, penuh kehati-hatian, tidak terburu-buru, tidak terbawa emosi, tidak terlalu disukai orang.Pekerjaan yang cocok untuk tipe ini: ilmuwan, dokter, penerjemah, surveyor, peneliti, dosen.
Tipe Kepribadian Artisitik. Ciri-ciri Tipe Kepribadian artisitik adalah tidak rapi, emosional, impulsive, tiakpraktis, mandiri, instrospektif, imajinatif, orisional, tidak senang, mengikuti arus, intuitif, peka, terbuka, disukai banyak orang.Pekerjaan yang cocok untuk tipe ini adalah: penulis, musisi, jurnalis, seniman, disainer, actor, kritikus seni.
Tipe Kepribadian Realistis. Ciri-ciri kepribadian realistis adalah tidak suka omong kosong, tidak suka mengumbar janji atau kata-kata , keras kepala, materialistis, praktis, menjauhi diri dari pergaulan social, sedikit bergaul, bersikap wajar tidak dibuat-buat, berterus terang, cenderung mengikuti arus, fleksibel, tekun dan cermat. Pekerjaan yang cocok untuk tipe ini antara lain : sopir, pilot, mekanik, juru masak, petani.
Tipe Kepribadian Pengusaha. Ciri-ciri tipe kepribadian pengusaha adalah gigih, ambisius, menyenangkan, mendominasi, menyukai petualangan, suka coba-coba, terkadang bertindak berlebihan, suka berbicara, penuh rasa percaya diri, sangat optimis, siap mencoba apapun Pekerjaan yang cocok untuk kepribadian ini adalah : penjual, eksekutif, manajer, wiraswasta
Ada 3 motif psikologis manusia dalam hidup,yaitu:
1. Motif berprestasi (the need for achievement)
Motif berprestasi (McClelland, 1985:224) merupakan usaha yang dilakukan untuk mencapai sukses dalam suatu persaingan berdasarkan suatu keunggulan yang didasarkan pada prestasi orang lain ataupun prestasi diri sebelumnya. Motivasi ini terefleksikan dalam perilaku-perilaku, seperti pencapaian tujuan yang sulit, penentuan rekor baru, ingin sukses dalam penyelesaian tugas sulit dan mengerjakan sesuatu yang belum selesai sebelumnya. Individu tersebut menyukai tugas-tugas yang kesuksesannya, tergantung pada usaha dan kemampuan maksimal mereka. Individu yang mempunyai motif berprestasi tinggi mempunyai lima karakteristik (McClelland 1985:246), yaitu:
a. tanggung jawab pribadi
b. kebutuhan akan umpan balik hasil
c. keinovativan
d. Ketekunan
e. resiko atau kesulitan moderat
2. Motif berafiliasi (the need for affiliation)
Menurut Mc Clelland (Hill, 1987) kebutuhan afiliasi merupakan kebutuhan yang pemenuhannya memerlukan hubungan yang hangat dan akrab dengan orang lain. Tampak pada segi hubungan pribadi dan bekerjasama dengan orang lain, serta dicapainya persetujuan atau kesepakatan dengan orang lain.
Motif berafiliasi muncul karena secara riil orang mempunyai berbagai macam kebutuhan yang harus dipenuhi apabila ingin kehidupannya berjalan terus. Seseorang menyadari bahwa dalam kehidupan sehari-harinya, dirinya menjadi perantara satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuannya. Selain itu seseorang berhubungan dengan orang lain akan memunculkan sikap saling memperkokoh, memperkuat sehingga akan saling memberikan kepuasan yang hanya dapat diperoleh melalui hubungan interpersonal.
Menurut David Mc Clelland (Hill; 1987) motif berafiliasi merupakan salah satu motif sosial yang berkaiatan dengan motif berprestasi dan motif berkuasa. Mengapa demikian? Manusia hidup tidak bisa melepaskan peran orang lain untuk mempertahankan hidupnya. Secara langsung atau tidak langsung individu menghasilkan sesuatu yang berguna bagi dirinya atau bagi orang lain. Hal itu merupakan prestasi. Besar kecilnya prestasi dapat dilihat berdasarkan penilaian orang lain atau ditentukan oleh intensi masing-masing orang dalam menilai hasil karya orang lain.
Di Indonesia dan juga di tempat-tempat lain, individu tidak akan dapat menjalani kehidupannya tanpa kehadiran orang lain, karena pada hakikatnya, individu mempunyai kebutuhan untuk hidup bersama dengan orang lain yang tentu saja kebutuhan tersebut tidaklah sama antara individu yang satu dengan individu yang lain (Martaniah, 1984:29). Kebutuhan ini merupakan bagian dari motif afiliasi. Motif afiliasi merupakan dorongan untuk ramah, berhubungan secara hangat dengan orang lain, dan menjaga hubungan itu sebaik-baiknya (McClelland, 1962:160). Swenson (2000) menambahkan bahwa motif afiliasi terefleksikan dalam perilaku yang ditujukan kepada orang lain.
McClelland (1985:348) menyatakan bahwa ada lima karakteristik individu dengan motif afiliasi yang tinggi, yaitu:
a. menunjukkan performa yang lebih baik ketika insentif afiliatif tersedia
b. memelihara hubungan interpersonal
c. kooperasi, konformitas, dan konflik
d. perilaku managerial
e. takut untuk ditolak.

3. Motif berkuasa (the need for power) : mendorong individu untuk menguasai dan memanipulasi orang lain.

Kuasa (power) berarti ”menguasai” baik untuk memenuhi kepentingan pribadi dan masyarakat. Hanya saja perlu diwaspadai karena kebutuhan untuk berkuasa bisa menjerumuskan pada kecenderungan korupsi. Sebagaimana Lord Acton (1887) telah menyatakan, ‘power tends to corrupt’ and ‘absolutely power corrupts absolutely’. Motif berkuasa memang cenderung menggiring petinggi dapat terjerembab dalam kasus korupsi. Terlebih lagi apabila petinggi hanya mengandalkan motif berkuasa semata, hampir dapat dipastikan perilaku korupsi makin menghantui.

Dalam berwirausaha, yang paling perlu dikembangkan adalah motif berprestasi. . Persaingan yang ketat menuntut kemauan keras, serta kesanggupan berpacu dengan keunggulan. Motif berafiliasi juga perlu diperhatikan , karena wirausaha harus pandai meningkatkan kemampuan manajerial, menggerakkan orang lain sebaik baiknya, yaitu dilandasi dengan dengan hubungan antar sesama yang baik.

Bagaimana memotivasi orang (termasuk diri sendiri) ?

1. Dengan paksaan (by force) melalui perintah atau intruksi bersifat memaksa. Pada awalnya, subyek akan melakukan tugas lebih didasarkan pada rasa takut apabila menolak tugas tersebut. Metode paksaan sangat tepat dilaksanakan oleh mentor/coach kepada orang yang ingin maju tetapi tidak menyadari potensi raksasa di dalam dirinya.


2. Dengan persuasi (persuasion) melalu cerita yang menarik, sehingga subyek terpikat dan atas kemauan sendiri meniru gambaran tentang keberhasilan orang lain. Metode persuasi tepat untuk menumbuhkan motivasi wirausahawan yang belum banyak memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang kewirausahaan.
3. Dengan stimulasi (stimulation) melalui gambaran dan petunjuk, sehingga subyek tertarik dan timbul inisiatif sendiri untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Metode stimulasi akan lebih baik, bila diterapkan pada subjek yang sudah memahami permasalahan kewirausahaan.

Memotivasi karyawan merupakan isu yang kritikal dalam rangka mempertajam strategi bisnis dan kewirausahaan, mengingat begitu penting aspek SDM dalam mensukseskan bisnis di era sekarang. Dr Gerald Graham, seorang Profesor bidang manajemen di Wichita State University telah berhasil mengadakan penelitian tentang motivasi 1500 karyawan, dan hasilnya dapat kita kembangkan untuk penguaatan strategi bisnis dan strategi pengembangan kewirausahaan, karena elemen dari penelitian itu masuk akal diterapkan di Indonesia.
Motivasi sangat berharga bagi seorang karyawan dimana tujuan dari memotivasi karyawan adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan moral & kepuasan kerja karyawan
2. Meningkatkan produktivitas kerja
3. Mempertahankan kstabilan karyawan perusahaan
4. Meningkatkan kedisiplinan kerja karyawan
5. Mengefektifkan pengadaan karyawan
6. Menciptakan suasana & hubungan kerja yg baik
7. Meningkatkan loyalitas, kreativitas & partisipasi karyawan.
8. Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan.
9. Mempertinggi rasa tanggungjawab karyawan
10. Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-2 & bahan baku.
Berikut kiat memotivasi karyawan, dengan 5 point kiat yang lahir dari penelitiannya, dan saya coba uraikan dengan cara pandang saya, dan silahkan diadaptasi untuk strategi bisnis dan aspek kewirausahaan di tempat anda:
1. Ucapan selamat kepada karyawan secara personal
Selama ini terlalu sering mendengar bahwa perusahaan dan institusi memberikan penghargaan dan reward dalam forum yang formal dan akbar. Namun jika anda sebagai pemilik atau manajer sudahkan anda mengucapkan secara personal, sebagai bentuk komunikasi intens, ini penting karena dengan mengucapkan secara personal maka anda membangun hubungan komunikasi timbal balik yang ideal. Timbal balik? Dimananya?
Dengan mengucapkan secara personal, maka anda membangkitkan komunikasi spiritual dan emosional antara anda dengan karyawan tersebut secara personal untuk saling menghargai.
2. Manajer menuliskan standar kinerja yang baik secara pribadi.
Anda sebagai manajer tidak mungkin menerka faktor dan penyebab keberhasilan bawahan. Sehingga tentu alangkah baiknya manajer mempunyai catatan pribadi tentang kinerja yang baik, maka ini sebagai usaha menjadi manajer yang memulai prestasi dengan keseimbangan antara standar dan penilaian kinerja secara obyektif. Nah secara organisatif anda bisa menjadikan catatan ini sebagai catatan yang tertutup untuk anda sendiri namun bisa juga bisa untuk kepentingan berkoordinasi dengan sesama jajaran dan atasan. Berawal dari catatan ini maka anda sebagai manajer akan dinilai konsisten dalam menilai bawahan, karena anda mampu menjaga stabilitas “cara menilai” dari waktu ke waktu, tidak tergantung mod dan hubungan yang khusus.
3. Perusahaan/Institusi/UKM mempromosikan dengan dasar keprestasian
Institusi bisnis tentu menginginkan adanya sebuah momentum untuk memacu karyawan lain dengan rangsangan dari kesuksesan salah satu atau beberapa karyawan lain. Nah dari sinilah ada sebuah momentum di mana prestasi menjadi tolak ukur yang obyektif, sehingga meminimalir disharmonisasi dan mispersepsi antar karyawan, karena budaya kasak kusuk jika tidak diimbangi oleh budaya obyektif dan transparansi maka dampak kasak-kusuk akan lebih mendominasi. Mempromosikan karyawan dalam hal ini adalah sebuah bentuk usaha pemacu ketauladanan dan “social reward” selain mungkin bentuk reward-reward yang lain.
4. Manajer memperkenalkan staf berprestasi kepada staf lain
Upaya untuk memberikan contoh sikap perilaku berprestasi adalah memberikan waktu dan kesempatan kepada seluruh karyawan untuk mengenal tentang sosok karyawan yang berprestasi. Harapannya bahwa setiap hari setiap waktu atmosfer prestasi itu bisa ditularkan kepada yang lain setiap saat setiap waktu, karena karyawan secara umum bisa memjalin komunikasi dan diskusi dengan sang karyawan berprestasi.
5. Menciptakan even untuk merayakan kesuksesan bersama dan membangun moral
Ketika bagian marketing lebih merasa berjasa dalam kesuksesan bisnis daripada jasa unit yang lain maka ini akan menimbulkan kontroversi di dalam perusahaan, apalagi di lain pihak bagian produksidiam-diam juga merasa berjasa karena target produksi selalu tercapai walau harus dengan lembur-lembur. Dari sinilah perlunya perusahaan untuk memberikan pandangan bahwa kesuksesan ini adalah milik bersama dari keberhasilan semua pihak, sehingga dari event ini memunculkan inspirasi moral jika salah satu salah satu unit/bidang tidak sukses atau memenuh target, maka akan mempengaruhi secara teamwork. Membangun moral dalam hal ini juga membudayakan bahwa bekerja tidak lah hanya mengabdi namun juga upaya untuk bekerja sepeti layaknya bekerjsa di perusahaan diri dalam aspek membangun moral berprestasinya, jangan sampai kehilangan sikap moral untuk memacu diri prestasi, karena merasa bahwa unit yang dihuni adalah unit yang tidak penting dalam kesuksesan sebuah perusahaan.
Tinjauan kewirausahaan dari perspektif Psikologi lebih terfokus pada pertanyaan mengapa secara individual ada orang dapat yang memanfaatkan peluang? Mengapa yang lain tidak? Mengapa ada pengusaha yang sukses? Mengapa ada yang tidak sukses?

Melihat sebuah peluang menjadi awal suatu ide untuk menancapkan sebuah roda usaha. Namun, hal tersebut perlu ditindaklanjuti dengan upaya eksploitasi peluang sehingga menciptakan keuntungan yang menjanjikan. Dalam hal ini, tidak Semua orang mampu melihat peluang usaha. Terdapat beberapa karakteristik kepribadian seseorang yang akan mempengaruhi dirinya dalam cara mengorganisasikan peluang wirausaha. Kepribadian yang berbeda akan menunjukkan perbedaan cara dalam menghadapi tantangan meski berada dalam situasi yang sama. Shane (2003) mengelompokkan karakter psikologis yang mempengaruhi
mengapa seseorang lebih memanfaatkan peluang dibandingkan yang lain dalam 4
aspek yaitu: Kepribadian, Motivasi, evaluasi diri, sifat-sifat kognitif.

a. Kepribadian
Kepribadian dan motivasi berpengaruh terhadap tindakan seseorang dalam
mengambil keputusan yang berkaitan dengan tindakan memanfaatkan peluang. Bahkan ketika sekumpulan orang dihadapkan pada peluang yang sama, mempunyai ketrampilan yang hamper sama, dan informasi yang sama; maka orang dengan motivasi tertentu akan memanfaatkan peluang, sementara yang lain tidak.

Ada 5 aspek kepribadian dan motif yang berpengaruh dalam memanfaatkan peluang
1) Ekstraversi
Ektraversi terkait dengan sikap sosial, asertif, aktif, ambisi, inisiatif, dan
ekshibisionis. Sikap ini akan membantu entrepreneur untuk mengeksploitasi peluang
terutama dalam memperkenalkan ide ataupun kreasi mereka yang bernilai kepada calon pelanggan, karyawan, dan sebagainya. Sikap ini membantu entrepreneur untuk
mengombinasikan dan mengorganisasikan sumber daya dalam kondisi yang tidak
menentu.

2) Agreebleeness (Kesepahaman)
Sikap ini terkait dengan keramahan, konformitas sosial, keinginan untuk
mempercayai, kerjasama, keinginan untuk memaafkan, toleransi, dan fleksibilitas
dengan orang lain. Hal ini akan membantu entrepreneur dalam membangun jaringan
kerjasama untuk kematangan bisnisnya terutama aspek dari keinginan untuk
mempercayai orang lain.
3) Pengambilan Resiko
Sikap ini berkaitan dengan kemauan seseorang untuk terlibat dalam kegiatan
beresiko. Beberapa resiko yang mungkin dihadapi oleh entrepreneur antara lain
pemasaran, finansial, psikologis dan sosial. Seseorang yang memiliki perilaku
pengambilan resiko yang tinggi akan lebih mudah dalam mengambil keputusan dalam
keadaan yang tidak menentu dan mengorganisasikan sumber daya yang dimilikinya
terutama dalam memperkenalkan produknya ke pembeli.

b. Motivasi
Hal yang tak kalah penting dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan adalah
motivasi. Sebagian besar entrepreneur dimotivasi oleh keinginan untuk menentukan
nasibnya sendiri. Dalam paparan berikut ini akan dibahas mengenai 2 macam kebutuhan yang melandasi motivasi seorang entrepreneur.

1) Kebutuhan Berprestasi
Merupakan motivasi yang akan memicu seseorang untuk terlibat dengan penuh rasa tanggung jawab, membutuhkan usaha dan keterampilan individu, terlibat dalam resiko sedang, dan memberikan masukan yang jelas. Kebutuhan berprestasi yang tinggi dapat dilihat dari kemampuan individu dalam menghasilkan sesuatu yang baru terhadap masalah khusus.

Selanjutnya, kebutuhan berprestasi juga dicirikan dengan adanya penentuan tujuan, perencanaan, dan pengumpulan informasi serta kemauan untuk belajar. Ciri selanjutnya dari adanya kebutuhan berprestasi adalah kemampuannya dalam membawa ide ke implementasinya di masyarakat.

Dengan demikian, kebutuhan berprestasi yang tinggi akan membantu seorang entrepreneur dalam menjalankan usahanya untuk memecahkan masalah sesuai dengan penyebabnya, membantu dalam menentukan tujuan, perencanaan, dan aktivitas pengumpulan informasi. Selain itu,kebutuhan informasi akan membantu entrepreneur untuk bangkit dengan segera ketika menghadapi tantangan.


2) Keinginan untuk independent (Need for independence)
Faktor ini menjadi penentu kekhasan dari seorang entrepreneur. Selain keinginan yang tidak ingin ditentukan oleh orang lain, keinginan untuk independen akan memicu seorang entrepreneur menghasilkan produk yang berbeda dengan orang lain. Ia akan lebih berani dalam membuat keputusan sendiri dalam mengeksploitasi peluang berwirausaha.
Motivasi seseorang juga akan meningkat seiring dengan adanya role model dalam membangun usahanya. Seorang entrepreneur akan berupaya mewarnai bisnisnya karena terinspirasi dengan entrepreneur yang telah sukses sebelumnya. Biasanya hal ini akan terlihat ketika seorang entrepreneur mulai memperkenalkan usahanya ke publik. Role model berperan sebagai katalis dan mentor dalam menjalankan usahanya. Selain itu, jaringan dukungan sosial dari orang-orang di sekitar entrepreneur akan berperan terutama ketika usaha tersebut menghadapi kesulitan ataupun ketika berada dalam keadaan stagnan dalam prosesnya.
Keberadaan jaringan ini dikategorikan menjadi:
a) Jaringan dukungan moral. Jaringan ini bisa berawal dari dukungan pasangan, teman-teman, dan saudara.
b) Jaringan dukungan dari professional. Jaringan ini akan membantu seorang
entrepreneur dalam mendapatkan nasihat dan konseling mengenai perkembangan usahanya. Jaringan ini bisa berawal dari mentor, asosiasi bisnis, asosiasi perdagangan, dan hubungan yang bersifat personal.

c. Evaluasi Diri
1) Locus of control
Locus of control didefinisikan sebagai kepercayaan seseorang bahwa ia mampu mengendalikan lingkungan di sekitarnya. Seorang entrepreneur yang memiliki internal locus of control lebih mampu dalam memanfaatkan peluang kewirausahaan. Mereka memiliki kepercayaan dapat memanfaatkan peluang, sumber daya, mengorganisasikan perusahaan, dan membangun strategi. Hal ini dikarenakan esuksesan dalam menjalankan aktivitas entrepreneur tergantung pada keinginan seseorang untuk percaya pada kekuatannya sendiri.

2) Self Efficacy
Self-efficacy adalah kepercayaan seseorang pada kekuatan diri dalam
menjalankan tugas tertentu. Entrepreneursering membuat penilaian sendiri pada keadaan yang tidak menentu, oleh karena itu mereka harus memiliki kepercayaan diri dalam membuat pernyataan, keputusan mengenai pengelolaan sumber daya yang mereka miliki.

d. Karakteristik Kognitif
Karakteristik kognitif merupakan faktor yang mempengaruhi bagaimana
seseorang berpikir dan membuat keputusan. Dalam mengembangkan peluang
kewirausahaan, seorang entrepreneurharus membuat keputusan positif mengenai
sesuatu yang mereka belum pahami, dalam ketidakpastian, dan informasi yang terbatas.

Dalam membuat keputusan positif tersebut dibutuhkan karakteristik kognitif yang membantu entrepreneur untuk memetakan cara bagaimana memanfaatkan peluang wirausaha. Karakteristik tersebut antara lain:

1) Overconfidence
Overconfidence merupakan kepercayaan pada pernyataan diri yang melebihi
keakuratan dari data yang diberikan. Sikap percaya yang berlebihan ini sangat
membantu entrepreneur terutama dalam membuat keputusan pada situasi yang belum pasti dan informasi yang terbatas. Dia akan melangkah lebih pasti dalam menjalankan keputusannya meskipun kesuksesan yang diinginkan belum pasti.

2) Representatif
Representatif merupakan keinginan untuk mengeneralisasi dari sebuah contoh
kecil yang tidak mewakili sebuah populasi. Bias dalam representatif akan mendorong seorang entrepreneur untuk membuat keputusan. Ia menjadi lebih mudah dalam membuat keputusan terutama dalam keadan yang tidak menentu.

3) Intuisi
Sebagian besar entrepreneur menggunakan intuisi daripada menganalisis
informasi dalam membuat keputusan. Kegunaan intuisi untuk memfasilitasi pembuatan keputusan mengenai ketersediaan sumber daya, mengorganisasi dan membangunstrategi baru. dengan memfasilitasi pembuatan keputusan maka argumen akan muncul, dan intuisi selanjutnya akan meningkatkan performa dalam kegiatan entrepreneur.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi karakteristik wirausaha,antara lain sebagai berikut:

1. Lingkungan keluarga dan masa kecil
Beberapa penelitian yang berusaha mengungkap mengenai pengaruh lingkungan
keluarga terhadap pembentukan semangat berwirausaha. Penelitian bertopik urutan kelahiran menemukan bahwa anak dengan urutan kelahiran pertama lebih memilih untuk berwirausaha. Namun, penelitian ini perlu dikaji lebih lanjut. Selanjutnya pengaruh pekerjaan orang tua terhadap pertumbuhan semangat kewirausahaan ternyata memiliki pengaruh yang signifikan.
2. Pendidikan
Faktor pendidikan juga tak kalah memainkan penting dalam penumbuhan
semangat kewirausahaan. Pendidikan tidak hanya mempengaruhi seseorang untuk
melanjutkan usahanya namun juga membantu dalam mengatasi masalah dalam
menjalankan usahanya.
3. Nilai-nilai Personal
Faktor selanjutnya adalah nilai-nilai personal yang akan mewarnai usaha yang
dikembangkan seorang wirausaha. Nilai personal akan membedakan ia dengan
pengusaha lain terutama dalam menjalin hubungan dengan pelanggan, suplier, dan
pihak-pihak lain, serta cara dalam mengatur organisasinya.

4. Pengalaman Kerja
Pengalaman kerja tidak sekedar menjadi salah satu hal yang menyebabkan
seseorang untuk menjadi seorang entrepreneur. Pengalaman ketidakpuasan dalam
bekerja juga turut menjadi salah satu pendorong dalam mengembangkan usaha baru.
BAB III.PENUTUP
A. Kesimpulan
Motivasi adalah sesuatu yang menggerak dan mengarahkan terhadap tujuan seseorang dalam tindakan-tindakannya sama ada secara negatif atau positif. Motivasi adalah merupakan sejumlah proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu, baik yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi.
Motivasi memiliki fungsi yang sangat penting dalam berwirausaha,yaitu mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan, sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

Motivasi terbagi atas 3 jenis, yaitu Fear Motivation adalah motivasi yang didorong oleh ketakutan, Achievement Motivation adalah motivasi yang didorong oleh keinginan mencapai sesuatu, Inner Motivation adalah motivasi yang didasarkan oleh misi atau tujuan hidupnya. Dari ketiga jenis tersebut yang paling baik adalah dalam berwirausaha adalah Achievement Motivation.

Motivasi dapat dikembangkan dengan menemukan kebutuhan yang bersifat fisik, keamanan, mental, psikologi, sosial, dan ekonomi dalam lingkungan kerja dan menciptakan kondisi bagi pemenuhan kebutuhan tersebut. Motivasi dapat dikembangkan dengan menciptakan suatu keinginan untuk bekerja keras/giat, berprestasi dan sukses. Keinginan untuk bekerja keras, berprestasi, dan sukses dapat didorong dengan memberikan tantangan sugestif yang memberi motivasi untuk bertindak.



Motivasi dapat kita terima melalui sentuhan tubuh (tersenyum, berjabat tangan, menepuk bahu), melalui sentuhan rohani (nasihat/ajaran moral/hikmat untuk mempertebal keinginan moral menjadi lebih baik, setia, jujur, aktif/giat, dan bertanggung jawab), melalui sentuhan psikologi (pujian (praising) atau teguran (reprimend), motivasi sukses (kenaikan pangkat/promosi sebagai tanda prestasi, dan penghargaan sosial lain), motivasi diri (Sugesti diri secara positif dengan mengembangkan sikap positif, pilihan-pilihan positif, dan keputusan positif ).
Motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai pengertian dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi/dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh individu lain/ organisasi.


DAFTAR PUSTAKA

Wijaya,J.A.2001.Motivasi Terbaik untuk Entrepreneur.Jakarta: PT.Alex Media Komputindo.
http://id.wikipedia.org/wiki/Motivasi
http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2008/11/19/pengertian-motivasi/
http://sobatbaru.blogspot.com/2008/10/pengertian-motivasi.html.
http://www.anneahira.com/motivasi/pengertian-motivasi.htm

http://www.ugmc.bizland.com/ak-ertimotivasi.htm

file://///Tek3/D/STAF/eviriyanti/trash/lead/bahan%20baru/motivs1.htm

file://///Tek3/D/STAF/eviriyanti/trash/lead/bahan%20baru/motivs1.htm

http://semangat.blogsome.com/?s=motivasi+kewirausahaan
http://id.wikipedia.org/wiki/Motivasi
http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2008/11/19/pengertian-motivasi/
http://sobatbaru.blogspot.com/2008/10/pengertian-motivasi.html
http://www.anneahira.com/motivasi/pengertian-motivasi.htm

http://www.ugmc.bizland.com/ak-ertimotivasi.htm

http://rajapresentasi.com/2009/03/teori-hirarki-motivasi-dari-abraham-maslow/

http://organisasi.org/teori_hierarki_kebutuhan_maslow_abraham_maslow_ilmu_ekonomi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar